Buah Roh (Kemurahan) Print E-mail
Written by bcssg   

FA [ COOL ] Material Week 1 - June 2010
Download here
English | Indonesia

BUAH ROH (KEMURAHAN)

 

PENDAHULUAN

 

Seberapa pentingnya kemurahan itu? Di dalam studi mengenai 37 budaya di seluruh dunia, 16.000 orang ditanya mengenai karakteristik yang paling disukai dari seseorang dan jawaban yang tertinggi adalah kemurahan!

Kemurahan adalah sebuah ciri yang kita semua kagumi. Kita banyak berbicara tentang kemurahan tetapi sulit untuk melakukannya. Berapa banyak dari kita yang memiliki kualitas ini? Seringkali, kemurahan bukanlah sesuatu yang sulit kita raih karena tidak membutuhkan biaya apa-apa. Berapa besar usaha yang dibutuhkan untuk tersenyum dibanding dengan cemberut? Atau untuk menguatkan orang lain? Hal itu mungkin membutuhkan waktu dan energi. Hal itu mungkin membutuhkan disiplin untuk mampu memikirkan kebutuhan orang lain dan bertindak. Sayang sekali, manusia banyak membuat alasan: "Saya terlalu sibuk." "Orang ini pantas mendapatkannya." "Tuhan mungkin sedang menghukumnya " (seperti asumsi teman-teman Ayub yang salah di dalam Kitab Ayub).

Ironisnya, orang ingin diperlakukan dengan baik tetapi sulit untuk berbuat baik. Sebuah studi mengenai tindakan semena-mena yang terjadi di sekolah dilakukan untuk mempelajari mengapa anak-anak memperlakukan dengan semena-mena kepada anak lain. Kesimpulannya adalah kebanyakan itu dilakukan karena mereka menikmatinya. Hal ini mengilustrasikan betapa kejam, jahat, dan sadisnya karakter dasar manusia. Kemurahan itu harus dipelajari.

 

Kita diciptakan untuk memiliki hubungan sosial yang intim dan emosional dengan orang-orang di sekitar kita, tetapi hasrat kita dicemari oleh kecenderungan egois kita untuk menguntungkan diri kita sendiri. Tindakan bermurah hati bisa dipakai untuk memanipulasi orang lain demi kepentingan diri sendiri. Yakub memakainya untuk mencuri hak kesulungan Esau (Kej 25:27). Motif kita di dalam berbuat baik adalah untuk memberi kesan positif. Suatu tindakan baik demi mendapatkan suatu keuntungan bukanlah kebaikan yang sejati. Kebaikan yang sejati adalah dengan memberikan pertolongan kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan.

 

Mark Twain berkata ... Kebaikan adalah suatu bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta.

PEMBAHASAN

 

1)         Orang Kristen bukanlah orang yang sendirian

Kemurahan adalah buah Roh yang menyatukan kita. Hal ini merupakan kasih yang ditujukan kepada mereka, bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kemurahan bukanlah suatu nilai yang bisa dikembangakan sendiri tetapi merupakan kualitas dari hubungan kita bersama orang lain. Kita harus menjadikannya sebagai tujuan dan kebiasaan untuk senantiasa mencari kesempatan dalam menunjukkan kemurahan.

Ketika Yesus melihat orang ramai dengan segala masalah,sakit penyakit dan kebingungan mereka, maka tergeraklah Dia dengan belas kasihan (Matius 9:36; 14:14; 18:27). Ketika kita memandang orang-orang di sekeliling kita, kita juga harus tergerak oleh belas kasihan. Kita juga harus membantu,memberi, membagikan, peduli, menguatkan, dan dipenuhi dengan belas kasihan sehingga kita mampu bertindak dengan kemurahan.

Ada banyak contoh dari kemurahan di dalam Alkitab. Yusuf menunjukkan kemurahan kepada saudara-saudaranya tanpa mempermasalahkan tindakan mereka terhadapnya di masa lalu. (Kejadian 50:21) Boas menunjukkan kemurahan kepada Rut ketika dia bekerja di ladangnya demi memperoleh makanan bagi dirinya dan Naomi. (Rut 2:16) Kisah dari orang Samaria yang baik hati adalah sebuah contoh yang baik mengenai menunjukkan kemurahan kepada orang asing. Yesus menunjukkan sebuah teladan kemurahan dengan menunjukkan belas kasihan, kesabaran, dan toleransi terhadap orang-orang seperti wanita yang berzinah dan wanita yang berada di sumur yang tidak sadar hidupnya sebenarnya bisa menjadi lebih baik. Kemurahan menyampaikan kebaikan Tuhan kepada orang lain tanpa syarat atau prasangka.

2)         Singkirkan harga, prasangka, dan keegoisan

 

Berhubungan dengan kemurahan, apa yang sering menghambat kemajuan kita adalah hasrat kita untuk menghakimi orang yang kita anggap tidak pantas menerima kemurahan dan pertolongan kita. Ketika bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, kita memberitahukan diri kita: “Oh, seandainya dia mengatur keuangannya dengan lebih baik, dia tidak akan menghadapi masalah ini, jadi dia pantas mendapatkannya dan pertolongan saya akan sia-sia bagi orang seperti dia.” Dengan cara ini, kita tidak taat pada hukum kasih dari perintah Kristus. Itulah yang menyebabkan kisah orang Samaria menyinggung kita.  Di sini ada seseorang yang sangat dibenci oleh penduduk lokal. Jika orang Samaria itu baru dipukul dan dirampok, kemudian kaum Lewi dan teman-teman kita tidak hanya melewatinya, mereka senang melihatnya sekarat, dan mungkin mereka mau menambahkan hinaan yang lebih lagi dengan meludahinya. Orang Samaria ini tahu dengan jelas akan hal ini. Jadi kemurahannya dilakukan dengan menyingkirkan segala prasangka dan dia memilih untuk melupakan hinaan yang telah dia terima di masa lalu. Semua yang dia lihat adalah seseorang yang membutuhkan pertolongan. Ketika buah kemurahan tumbuh di dalam kita, kita juga akan belajar melihat orang lain dengan cara seperti itu.

 

Cara yang paling penting yang bisa kita mulai untuk peduli kepada orang lain adalah dengan memindahkan fokus dari kepentingan pribadi kepada pengorbanan, untuk bertindak melampaui diri dan hasrat kita. Jika kita benar-benar ingin tumbuh di dalam karakter kita, kita harus mengubah tujuan kita dari kenyamanan menjadi pengorbanan. Kita lebih memperhatikan apa yang kita miliki, bagaimana kita bisa mempergunakannya dan mengapa kita mendapatkannya. Jika Anda ingin mengalami pertualangan hidup yang penuh yang dimaksudkan bagi hidup Anda, Anda harus rela untuk bertindak dan melayani orang-orang yang membutuhkan dengan kasih Allah. Adalah penting bagi kita untuk mulai melayani orang lain dengan berkat yang sudah Tuhan berikan kepada kita.

 

Di dalam keadaan seorang janda (2 Raja 4:3-4), Elisa memintanya untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa yaitu untuk mencari bejana kosong untuk diisi. Dia harus pergi dan mendapatkan bejana kosong tersebut. Ini bukanlah hal yang dia butuhkan. Ketika kita menghadapi masalah, sikap kita menjadi “Saya tidak bisa fokus kepada siapa pun saat ini, saya sendiri sedang membutuhkan sesuatu. Saya tidak memiliki waktu untuk orang lain dan harus menjaga diri saya sendiri dulu.” Kita biasanya tidak memperhatikan bejana kosong di sekeliling kita setiap hari karena kita dibutakan oleh masalah dan kekuatiran kita. Jika kita mau melihat, bejana kosong ini muncul tidap hari di tempat kerja, keluarga, lingkungan dan di gereja. Tuhan meminta kita untuk memberi apa yang kita miliki, tidak peduli seberapa kecilnya. Dia meminta kita untuk mempertimbangkan orang lain di atas diri kita dan percaya kepada-Nya untuk memenuhi kebutuhan kita dan dipergunakan-Nya untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Perhatikan apa yang terjadi terhadap janda tersebut ketika dia mengumpulkan bejana kosong: “Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir. (2 Raja-Raja 4:6). Ketika kita memindahkan fokus kita kepada Tuhan dan mulai menuangkan hidup kita kepada orang lain dan bergerak sesuai dengan arah-Nya, Dia mulai menuangkan berkat-Nya kepada kita. Kita diberkati untuk memberkati.

 

Kebanyakan petani akan memberitahukan Anda bahwa dimana Anda menanam hampir sama pentingnya dengan apa yang Anda tanam. Sebuah benih memiliki potensi tetapi jika ditanam di atas tanah yang buruk, tidak akan ada buah yang tumbuh daripadanya. Jika Anda menanam kebaikan, Anda akan menuai kebaikan. Apa yang Anda berikan di dalam hidup Anda, akan Anda peroleh kembali. Menurut hukum tuaian, kita menuai apa yang kita tabur tetapi kita juga menuai lebih banyak dari yang kita tabur. Jika Anda menanam sebuah benih, Anda tidak akan mendapatkan sebuah benih saja atau bahkan sebuah apel,saja ,tetapi Anda akan mendapatkan sebuah pohon yang dipenuhi dengan apel, musim berganti musim.

Untuk menggali kemurahan, kunci yang harus diperhatikan adalah mengingat sifat dari buah itu. Buah tidak tumbuh dalam waktu semalam tetapi melalui sebuah proses di bawah kendali Tuhan. Ketika Anda berfokus pada pengenalan akan firman Tuhan dan berkomitmen untuk mengasihi orang lain tanpa syarat, Anda bisa berharap untuk mendapatkan berkat di dalam hidup Anda.

 

DISKUSI

1.     Pikirkanlah langkah-langkah yang harus Anda ambil untuk menyatakan kemurahan di dalam suatu situasi. Bagaimana kita menunjukkan kemurahan kepada orang yang telah berbuat salah terhadap kita?

2.     Mengapa kemurahan yang murni sangat kurang pada hari ini?

KESIMPULAN

Orang yang bijaksana akan menabur apa yang paling berharga yang dia miliki untuk investasi untuk hasil yang besar: “MANUSIA”. Hubungan kita adalah investasi yang tidak bisa dihancurkan oleh api atau bencana alam atau hilang di bursa saham. Tuhan telah menginvestasi ke dalam setiap dari kita kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dan Dia mengharapkan hasil dari investasi-Nya. Dia ingin kita meraih kesempatan dan mengenal tanggung-jawab kita untuk membawa perubahan di dalam hidup orang lain dengan kasih dan kemurahan.

 

Contact Us

400 Orchard Road #07-01

Orchard Towers

Singapore 238875


Tel: (65) 6463 4695

Fax: (65) 6227 6084

email: info@bcs.org.sg