Roh Sukacita Print E-mail
Written by bcssg   

FA [ COOL ] Material Week 1 - May 2010
Download here
English | Indonesia

ROH SUKACITA

 

Joy to the world the Lord is come. Let earth receive her King.” Lirik lagu ini sudah tidak asing ditelinga banyak orang, termasuk orang-orang yang tidak percaya. Lagu ini sering sekali diputarkan saat natal. Sukacita adalah hal yang baik, mari kita melihat lebih jelas lagi tentangnya.

 

Apakah anda masih ingat, bagaimana perasaannya ketika menerima kado dari orang lain? Perasaannya sungguh bahagia. Tetapi berapa lamakah perasaan ini bertahan ? Mungkin ada yang bertahan kurang dari 1 hari atau bahkan mungkin bertahan kurang lebih 1 minggu, semua itu tergantung seberapa besar ukuran kado yang diterima. Cepat sekali hilang perasaannya! Untuk tetap merasa bahagia, sepertinya kita perlu menerima banyak hadiah. Kebahagiaan duniawi seperti ini hanya bertahan sebentar dan kemudian dengan cepat akan pudar. Sukacita yang di dapat di dalam roh bertahan lebih lama. Pengalaman seumur hidup yang diperoleh dari suatu tempat yang maha tinggi, akan lebih berharga dari pada masalah duniawi.

 

Kita semua tahu bahwa sukacita adalah suatu hal yang baik dan kita menginginkan hidup kita dipenuhi dengan sukacita. Bagaimana caranya agar buah roh ini terjadi dalam hidup kita?

Pembahasan

 

Berakar dalam Kristus – ada pepatah yang mengatakan “kamu adalah apa yang didalammu”. Jika kita memiliki  Kristus didalam kita, maka roh sukacita ada didalam kita. Semakin kita hidup seperti Kristus semakin kita rasakan roh sukacita itu nyata dalam kehidupan kita. Bila kita bergantung pada orang lain dan pada  sukacita duniawi, kita akan dikecewakan. Perasaan “Sukacita” yang didapati dari hal-hal duniawi, lama kelamaan akan lenyap, sehingga kita harus mencari lebih banyak lagi orang-orang atau hal-hal yang dapat membuat sukacita itu bertahan. Yesus mengatakan kepada perempuan Samaria tentang perumpamaan perbandingan air kehidupan (roh kudus) dengan air yang diambil nya dari sumur Yakub. Jawab Yesus kepadanya:”Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi  mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”(Yoh 4:13-14) Demikianlah, jika kita memiliki roh sukacita, kita tidak akan menjadi haus dan tidak perlu mencari sesuatu agar “sukacita” itu bertahan lama.

 

Saat Nehemia membangun kembali tembok Yerusalem, dia membesarkan hati orang-orang dengan mengatakan sukacita karena Tuhan adalah perlindungan bagi mereka! (Neh 8:10). Bahkan saat Paulus menuliskan didalam suratnya kepada orang Tesalonika untuk bersukacita senantiasa (1 Tes 5:16)! Sukacita kita tidak seharusnya bergantung dengan keadaan atau situasi disekitar kita, tetapi haruslah lebih kepada Tuhan. Menggantungkan sukacita kita kepada suatu situasi atau keadaan itu sifatnya sementara, tetapi jika bergantung kepada Tuhan, maka Ia akan memberikan kita sukacita yang terus menerus yang tidak pernah habis.

 

Sukacita dengan Iman – kadang kala kita menghadapi situasi yang sulit, sehingga sukacita itu dirampas didalam diri kita. Saat menderita, kita merasa tertekan dan bahkan merasa tidak berpengharapan. Dalam situasi seperti ini, sukacita merupakan hal yang terakhir yang ada dipikiran kita. Kita bahkan sering kali tenggelam dalam kesedihan dan menolak untuk melepaskannya. Saya pernah mengalaminya dengan putri saya. Kadang saat dia sedang bersedih, dia akan terus menangis. Apapun cara yang sudah digunakan untuk menghiburnya, tetapi tetap saja dia menangis. Dia menolak untuk dihibur. Sukacita adalah hal yang terakhir yang dia ingini. Ini adalah suatu yang tidak benar dan dapat membahayakan kerohaniannya. Jika terlalu tenggelam dalam masalah duniawi, kita cenderung akan menolak kuasa Allah yang mampu mengubahkan dukacita menjadi tarian dan kesusahan menjadi sukacita. Ini adalah dosa.  Kita harus tetap beriman saat menghadapi penderitaan. Seperti seorang ibu yang sakit bersalin karena melahirkan anaknya. Namun, sukacita dirasakan setelah anak itu lahir. Tuhan mengijinkan kita melewati penderitaan agar kita menjadi lebih baik. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja didalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, bagi dia yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28).

 

Kita perlu beriman, saat kita berserah padaNya, Tuhan yang menguasai setiap situasi. Hanya dengan berserah pada Tuhan, kita akan menemukan ketenangan dan harapan, karena Allah kita adalah Allah yang penerobos! Bila Allah sudah membelah Laut Merah dan menyediakan keperluan orang-orangNya saat di padang gurun, Dia juga Allah yang dapat memberikan jalan keluar bagi kita. Ketika kita tahu bahwa Allah dapat menanggalkan kesulitan kita, dapatkah kita bersukacita didalamNya?

 

Ada cerita dari seorang anak lelaki yang saudara perempuannya terkena masalah pada otaknya dan membutuhkan  operasi dengan yang biayanya amat besar. Dia membawa celengannya ke rumah sakit dan mendekati dokter yang sedang berbicara dengan seorang suster. Lalu, anak lelaki itu memotong pembicaraannya dan memberitahukan dokter  tersebut mengenai saudaranya. Dia memberitahukan dokter itu bahwa dia yakin bahwa Tuhan dapat memulihkan saudaranya,walaupun keluarganya tidak mempunyai uang, tetapi dengan uang celengan yang dia punya, dia  ingin mencoba menyelamatkan saudaranya. Tidak kebetulan dokter itu adalah dokter bedah otak yang terkenal yang kebetulan sedang berada di kota dan mendengar isi hati anak lelaki ini; dia mengambil kasus ini dan mengoperasi saudaranya dengan cuma-cuma. Apa yang kita perlukan adalah mempunyai iman, saat kita berserah, maka kita tahu bahwa itu berada ditangan yang benar.

 

Memuji TuhanAku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi. (Mzm 9:2-3) Sukacita dan ucapan syukur pada Tuhan disebut berulang kali didalam kitab mazmur. Alasan utama pemazmur memuji Tuhan oleh karena apa yang telah Tuhan lakukan buat mereka dan bangsa Israel. Namun demikian, tidak seharusnya Dia melakukan sesuatu dahulu untuk kita baru kemudian kita memujiNya. Sukacita dan ucapan syukur berkaitan satu sama lain. Ada kuasa di dalam pujian.  Ketika kita memuji Tuhan, hati kita akan terangkat dan Dia akan mencurahkan minyak untuk pesta ganti kain kabung (Yes 61:1-3)

Ketika kita memuji Tuhan, sukacita kita akan bertambah dan ini adalah roh sukacita. Saat menderita atau kesusahan, puji Dia dan Dia yang setia dan murah hati akan melepaskan kita dari masalah dan memberikan kita sukacita- sukacita yang sebenarnya dalam roh.  Ketika saya merasa putus asa saya memuji Tuhan, gelombang sukacita memenuhi hati saya. Semakin saya memuji Tuhan semakin kuat sukacita memenuhi hati saya. Jika engkau pernah memuji Tuhan saat engkau sedang sedih atau susah, engkau akan mengerti maknanya. Ketika engkau memuji Tuhan, engkau telah mengubah fokusmu kepada Allah dan Dia akan memberikanmu kekuatan yang baru. Seperti diisi kembali !

 

Ketika Raja Yosafat menghadapi musuh yang banyak, dia berpaling kepada Tuhan dan Tuhan pun berbicara melalui nabi-Nya bahwa peperangan itu adalah peperangan Allah. Raja Yosafat menempatkan tim pemuji didepan barisan tentaranya, sambil berkata , “ Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”. (2 Taw 20:21). Tuhan menyerahkan musuh-musuhnya kedalam tangannya!

 

Pertanyaan diskusi

  1. Apakah sumber sukacitaku?
  2. Mengapa saya harus memuji Tuhan ketika saya sedang dalam dukacita?

 

Kesimpulan

 

Dengan iman kita  bergirang dalam Tuhan. Sukacita yang berlimpah akan diterima jika kita bergirang di dalam Tuhan. Nyanyi pujian bagi Dia saat kesukaran dan Dia yang setia dan murah hati akan memberikanmu minyak sebagai ganti kain kabung. Biarlah Tuhan memberikan kita terobosan saat kita bergirang dalam Dia! Haleluyah!

 

 

Contact Us

400 Orchard Road #07-01

Orchard Towers

Singapore 238875


Tel: (65) 6463 4695

Fax: (65) 6227 6084

email: info@bcs.org.sg