| Mata Kita - Prinsip Tuntunan |
|
|
| Written by bcssg |
|
FA [ COOL ] Material Week 3 - Jan 2010 Mata Kita – Prinsip Tuntunan
Selamat Tahun Baru! Berdasarkan tuntunan profetik tahun ini, kita sudah memasuki tahun ‛AYIN’. Itu berasal dari Bahasa Ibrani yang berarti sebuah mata (Strong H5869). Mata berarti perspektif; mengenai cara kita memandang hidup ini; mengevaluasi hal-hal. Mata juga berhubungan dengan minat dan ketertarikan kita akan sesuatu. Jika kita melihat tampilan dari banyak benda yang berbeda, orang yang berbeda akan memfokuskan pada hal yang berbeda menurut minat mereka. Mata adalah pintu masuk yang paling kuat bagi hal-hal dari luar untuk masuk ke dalam hidup kita dan mempengaruhi cara pengambilan keputusan kita mengenai cara untuk hidup. Mari kita saling belajar bersama-sama sebagaimana kita membahas diskusi di bawah ini. Latar Belakang Latar belakang dari cerita di bawah adalah ketika keadaan mulai membaik, masalah mulai muncul. Biasanya kita berpikir … suatu hari nanti hidup saya akan membaik dan semua masalah akan hilang. Kenyataannya tidak seperti itu. Sebagaimana kita perhatikan di sini, para gembala bertengkar dan bergumul sampai mempengaruhi hubungan antara Abraham dan Lot. Mereka tidak bisa berdampingan lagi; mereka harus berpisah dan menempuh jalan masing-masing. Tetapi harus kemana?
Mata Lot (Kej 13:10-13) (Tanyakan pertanyaan ini: Bagaimana Lot membuat keputusan? Apa yang salah? Apa yang harus dia lakukan?)
Lot diberikan sebuah pilihan. Dia berada di sebuah persimpangan. Penting baginya untuk membuat keputusan penting – usaha, keluarga, tempat tinggal dan masa depannya. Apa yang dia lakukan? Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan …
Pada suatu waktu, semua dari kita akan menghadapi hal yang sama. Kita mungkin bisa melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Lot. Kita akan memakai mata jasmani kita atau logika kita.
Akan tetapi, apakah kita memandang kepada-Nya dan bertanya kepada-Nya dulu? Apakah kita melihat situasi kita dari sudut pandang Allah? Jika Lot melakukan demikian, Tuhan pasti akan memberitahukannya untuk memandang wilayahnya. Segera dituliskan di dalam ayat 13, Alkitab menuliskan “Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN.” Semua orang berdosa, tetapi orang-orang ini sangat berdosa.
Jika kita melihat kembali, berapa kali kita melakukan yang benar di dalam mengambil keputusan? Carilah Tuhan terlebih dahulu dan dengan sabar menantikan-Nya sampai Dia menyatakan hikmat-Nya. Alkitab tidak menulis soal ini tetapi mungkin Lot terbiasa meniru Abraham berdoa. Tetapi matanya memandang Lembah Yordan … yang begitu hijau dan terairi dengan baik … sehingga hatinya mulai berubah. Dia tidak sabar untuk pergi ke sana.
Keputusan itu sangat jelas karena tidak salah sebab itu akan menguntungkan. Fasilitas yang ditawarkan bagus. Potensinya luar biasa. Tetapi kita tahu akhir dari kisah ini. Lot harus lari menyelamatkan diri bersama keluarganya. Istrinya tidak selamat. Semua yang dia peroleh musnah dalam waktu semalam ketika terjadi penghakiman dari surga.
Ams 3:7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan. Ketika kita merendahkan diri kita dan memilih untuk takut akan Allah, kita akan menerima hikmat dan pengertian-Nya (Ams 9:10).
Apakah kita pernah mengalami keadaan yang sama? Kita mungkin juga memiliki “Lembah Yordan di dekat Sodom.” Tahun ini, kita juga mungkin menghadapi satu atau beberapa dari mereka. Saat ini, biarkan kita belajar dan menyelesaikan di dalam hati kita bahwa kita tidak akan bertindak bodoh dengan mengikuti kehendak kita sendiri dan ditipu oleh dunia. Tetapi sebaliknya, mata kita memandang kepada Tuhan dan bertindak dengan bijaksana sesuai dengan kehendak-Nya.
Mata Abraham (Kej 13:14-18) Sangat menarik bahwa Tuhan memenuhi janji-Nya mengenai tanah tersebut kepada Abraham setelah itu.
· Setelah perselisihan itu selesai. Apakah kita memiliki perselisihan? · Setelah Abraham dengan rendah hati memberikan pilihannya kepada Lot. Apakah kita rela jika itu merupakan kehendak Tuhan? · Setelah kelihatannya dia tidak mendapatkan pilihan terbaik. Lot memilih bagian yang terbaik! Dia menerima sisanya.
(Tanyakan pertanyaan ini: Jika kita adalah Abraham, apakah kita akan membiarkan Lot menentukan pilihannya dulu? Pertimbangkan juga jika Lot merampas tanah itu dari Abraham, apa reaksi kita jika kita adalah Abraham? Kecewa, lemah hati, putus asa, marah, dendam, dsb, etc.?)
Tetapi Abraham memiliki perspektif yang berbeda. Dia memenuhi panggilan Tuhan sejak awal. Di dalam Ibrani 11:8-10 kita bisa membaca bahwa dia berangkat dengan iman, tanpa mengetahui tempat tujuannya. Dia tinggal di kemah … karena menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang diciptakan dan dibangun oleh Tuhan. Di dalam ayat 14-16, kita bisa lihat bahwa dia mencari sebuah rumah. Dia bisa saja kembali ke tempat asalnya dan membangun rumahnya. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa dia mencari tempat yang lebih baik … bukan hanya tempat yang baik di negeri asing, tetapi dia memandang pada Tuhan! Dan dinyatakan bahwa Tuhan telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka!
Di dalam ayat 18, setelah dia menerima janjinya, dia memindahkan kemahnya dan membangun sebuah altar untuk Tuhan. Dituliskan berkali-kali, kemana pun dia pergi, dia selalu membangun altar bagi Tuhan. Dia berjalan begitu dekat dengan Tuhan dan Tuhan menyatakan rahasia-Nya kepadanya (Mzm 25:14). Kej 18:17 menyatakan Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”
Bukankah itu baik jika Tuhan menunjukkan kepada kita rencana-Nya dan bahkan rahasia-Nya? Kita akan memiliki pengertian mengenai hal-hal di dunia dan kita bisa berjalan dengan baik dan memilih dengan bijaksana. Milikilah mata rohani yang terbuka dengan hikmat dan pengertian dari surga.
Mata Kita Kita telah membaca dua tokoh di atas. Ada banyak tokoh-tokoh lain yang bisa kita pelajari. Tetapi jika kisah hidup kita dicatat, mirip dengan kisah yang manakah? Mata Lot atau mata Abraham. (Apakah ada anggota COOL Anda yang ingin membagikan pengalaman dan kesaksian?)
Di dalam 2 Kor 4:16-18, Paulus menuliskan tentang hal lahiriah dan batiniah, masalah dan kemuliaan, dan juga Paulus menyatakan untuk tidak hanya memandang hal yang terlihat, tetapi yang juga tidak terlihat. Tetapi untuk hal-hal yang terlihat itu fana sifatnya, tetapi hal yang tidak terlihat kekal sifatnya.
|



