| Kualitas yang Dicari Tuhan (bagian 3) |
|
|
| Written by bcssg |
|
FA [ COOL ] Material Week 1 - Nov 09 KUALITAS YANG DICARI TUHAN DI DALAM ORANG YANG DIPAKAI – Bagian 3 Disadur dari Qualities God looks for in People He Can Use oleh Rick Warren Pendahuluan Dalam dua minggu terakhir, kita sudah membahas empat kualitas yang dicari Tuhan di dalam orang yang dipakai-Nya yaitu, orang yang kudus, penuh penyerahan diri, percaya dan berpikiran jauh ke depan. Minggu ini kita akan membahas dua kualitas terakhir yaitu, orang yang gigih dan mengasihi. Pembahasan
Orang yang bisa dipakai Tuhan secara luar biasa tidak pernah menyerah. Mereka tidak menjadi lemah hati. Mereka rajin, gigih, dan memiliki tekad yang kuat. Mereka bertahan seperti Paulus yang terus maju dan tidak pernah menyerah. Galatia 6:9 menyatakan, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Di dalam alkitab terdapat banyak contoh orang-orang yang memiliki janji yang luar biasa tetapi gagal memenuhinya. Paulus menyebut tentang Demas di dalam 2 Timotius 4:10, “Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku.” Dia memulainya dengan benar tetapi akhirnya apinya padam. Yohanes yang disebut Markus memulainya dengan baik. Dia pergi bersama dengan Paulus dan Barnabas tetapi akhirnya mundur. Akhirnya dia kembali ke jalan yang benar. Tuhan memakai orang yang tidak menyerah dan gigih. D. L. Moody berkata, “Saya tidak pernah tahu apakah Tuhan memakai orang yang lemah hati.” Anda menjadi lemah hati karena Anda yang memilih untuk itu. Anda lebih memandang masalah daripada Tuhan. Dia tidak akan memberi beban yang jauh lebih berat daripada yang bisa kita pikul. Jadi, percayalah kepada-Nya. Kadang-kadang Anda bisa memikul yang lebih daripada yang Anda bayangkan. Rahasia Paulus adalah bahwa tidak ada hal yang bisa melemahkan hatinya. Tuhan memakai orang yang gigih. “Kita ditekan dari segala arah oleh permasalahan kita tetapi masalah itu tidak menghancurkan kita. Kita terheran-heran karena kita tidak tahu mengapa hal-hal tersebut terjadi pada kita tetapi kita tidak menyerah dan berhenti. Kita diburu-buru tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kita dijatuhkan tetapi kita bangkit kembali dan terus berjalan.” Itulah sebabnya mengapa Paulus menjadi orang yang luar biasa. Dia hanya terus berjalan. Apa yang melemahkan hati kita? Apakah kita akan menjadi lemah hanya karena sebuah kritikan? Jika kita mau menjadi pemimpin, pelayan, serta melayani Yesus Kristus, kita harus memiliki kulit yang tebal dan hati yang lembut. Memang sulit untuk menyeimbangkannya tetapi kita membutuhkan kedua hal tersebut. Kita tidak bisa hidup untuk menyenangkan orang lain. Hal yang penting adalah kita harus menyenangkan Tuhan karena apa yang Dia katakanlah yang terpenting karena Dia adalah Raja sorgawi kita. Orang Kristen tidak boleh membiarkan masalah membuat mereka jatuh. Seorang yang besar adalah seorang biasa yang memiliki tekad yang kuat. Thomas Edison pernah berkata, “Kejeniusan berasal dari 10% inspirasi dan 90% jerih-payah.”
Ini adalah ciri yang utama di dalam Perjanjian Baru. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” 1 Yohanes 4:7-8 Saat ini, orang-orang sedang mencari kasih. Ketika kita berdiri dan berjabatan tangan dengan jemaat menyapa mereka dengan senyum sukacita, “Shalom,” Anda mungkin tidak mengetahuinya bahwa Anda sudah membawa damai ke dalam hidup seseorang dan membuat hari seseorang lebih cerah. Bahkan hanya dengan kata Hallo setelah ibadah bisa menguatkan seseorang dan kita mungkin menjadi satu-satunya orang yang mengobrol dengan mereka di akhir pekan! Kita cenderung kehilangan elemen kasih ketika kita terlalu sibuk. Meskipun kita mungkin tahu segala kebenaran teologis yang luar biasa tetapi jika kita tidak memiliki kasih kita menjadi seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Apakah kita mengasihi orang seperti Yesus? Itu adalah dasar pelayanan. Seseorang berkata, “Simpatik adalah saat Anda berkata, ‘Saya turut menyesal.’ Empati adalah saat Anda berkata, ‘Saya turut merasa sakit.’ Tetapi belas kasihan adalah ‘Saya akan melakukan segalanya untuk menghentikan penderitaanmu.’ Jika kita belajar dari kehidupan Kristus yang menyatakan bahwa “Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.” Dia menyatakan, “Aku akan melakukan apa saja yang saya bisa untuk menghentikan sakitmu bahkan jika itu berarti Aku harus disalibkan. Yesus tergerak oleh belas kasihan. Sangat menarik bahwa di dalam Matius 25 hal satu-satunya yang kita kerjakan yang akan dihakimi adalah cara kita memperlakukan orang lain. “Ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian. ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan. ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum.” Cara kita memperlakukan orang lain adalah salah satu dari nilai-nilai kekekalan. Lebih mudah untuk memberitahukan seseorang apa yang harus dilakukan daripada berdiri bersama mereka di dalam penderitaan dan mengasihi mereka. Kasihi mereka di dalam Keluarga Allah. Bahasa kasih selalu berhasil. Bertahun-tahun yang lalu, Fulton Sheen, seorang uskup Katolik, mengunjungi sebuah koloni penderita kusta di Afrika. Ketika dia sedang berjalan, ada seorang penderita kusta yang berbaring di tanah yang tidak hanya menderita kusta tetapi juga berbagai penyakit kulit lainnya. Tubuhnya dipenuhi dengan luka-luka. Fulton Sheen menghampiri orang itu untuk berbicara dengannya. Dia sedang memakai sebuah kalung salib, seketika itu kalungnya lepas dan salibnya jatuh mengenai luka-luka yang terbuka di tubuhnya. Fulton Sheen berkata, “Saya merasa jijik dan mundur ketakutan.” Kemudian dia berkata, “Tiba-tiba saya dipenuhi belas kasihan bagi orang itu. Saya mengambil salibnya dari luka tubuhnya itu.” Apa yang Tuhan perlu kita kerjakan adalah pergi menghampiri luka-luka tersebut di tempat kerja dan mengambil salib itu kembali serta melakukannya dengan kasih. Tuhan memakai orang yang mengasihi. Diskusi
Kesimpulan Tuhan menginginkan orang-orang yang gigih di dalam mengerjakan kehendak-Nya. Hanya orang-orang seperti itu yang bisa bertahan di dalam panasnya pelayanan. Ketika hal-hal menjadi sulit, dan kita mampu bertahan. Tuhan juga mengkehendaki kita semua dipenuhi dengan kasih. Tanpa kasih, pelayanan kita akan menjadi biasa tetapi dengan kasih, pelayanan kita akan menjadi pelebaran Kerajaan Allah. Kasih Allah mengubah dunia. Puji Tuhan!
|



